user_mobilelogo

Kutanam selasih / Kutanamkan di hujung halaman /Mengenangkan kasih wahai sayang / Yang aku tinggalkan / Kusiram selasih / Kusiramkan di hujung halaman / Mengenangkan kasih wahai sayang / Lambang percintaan

Hai kencana dewi kasih yang kurindu / Kukenang selalu / Sayang / Semoga tak kan layu / Cinta yang sejati kekal dan abadi / Hai kencana dewi kau tetap kukenang / Janganlah kau bimbang / Sayang / Kau tetap kan pulang / Di sisiku sayang / membawa harapan

TEMBANG bertajuk Selasih yang pernah dipopulerkan Ahmad Jais dan Rafeah Buang, berirama melodius khas Melayu lama ini, akan merasuk ke rongga rasa di Theatre Jakarta – Taman Ismail Marzuki – Jakarta, Jum’at (22 Agustus 2014) malam. Suara khas Darmansyah yang khas Melayu dan Nong Niken Astri – pelantun sound track Negeri Laskar Pelangi dengan power tone yang kuat, akan membawa kita menemukan kembali ‘cinta’ yang memburai.

Selasa, 19/8 malam, di salah satu studio musik di bilangan Tebet Barat Dalam – Jakarta Selatan, bersama Geiz Chalifah - penggagas dan maisenas musik Melayu, saya menyaksikan latihan beberapa penyanyi yang akan meramaikan Jakarta Melayu Festival itu. Benar apa yang dikata Geiz, “Mengubah persepsi, mengubah image, butuh imaginasi, butuh konsistensi, terlebih atas sesuatu yang dianggap kuno, karatan dan tak menarik di kalangan anak-anak muda. Namun ketika yang kuno itu diberi sedikit sentuhan zaman diwarnai cara pandang baru maka persepsi itu berubah drastis.”

Geiz menggelar musik melayu ini untuk yang ketiga kalinya, sejak “Malam Bulan Berpagar Bintang,” di Crown Hotel – 2012 dan “Seroja” di Bhirawa – Bidakara – 2013. Aktivis yang tak henti meneriakkan integritas dan integralitas kebangsaan itu memilih musik Melayu sebagai telangkai persatuan, dalam nafas sumpah zaman, “Tak Melayu Hilang di Bumi.” Ketika politik mencerai beraikan, ketika individualisme menanggalkan firqah, ketika budaya pop memilah pisah tradisionalisme – modernisme, musik dan budaya Melayu Nusantara menyatukannya.

Geiz memilih jalan perpaduan artisik, estetik dan etik untuk mengusik kembali cinta sebagai basis kemanusiaan. Musik melayu yang disajikan dengan menghadirkan Rafly Kande yang kerap meneriakkan ‘balaghi’ Aceh yang menggugah kesadaran menegak integritas (lewat tembang Hikayat Prang Sabi), Fadli (Padi) yang menjejak di atas kesadaran musik sebagai performa ekspresi nurani, Niken Astri yang menebar spirit patriasi dengan Negeri Laskar Pelangi yang menghentak ritmik.

Pentas Jakarta Melayu Festival yang digelar Gita Cinta Production, akan pula ‘memandu’ ke jalan cinta lewat tembang Novi Ayla dengan Badarsila dan Cintai Aku Karena Allah, lewat suara Darmansyah yang konsisten memelihara musik Melayu. Juga dengan suara Uma Tobing – Duo Shahab – Amigos Band akan menghibur dengan ragam irama rentak dan melodius khas Melayu.

Ragam tembang Melayu yang pernah dipopulerkan almarhum Mashabi, Juhana Satar, Ahmad Jais, Rafiah Buang, dan penyanyi lawas lainnya akan hadir dengan performa kekinian. Para musisi dengan beragam talenta dihimpun lewat orkestra yang diperkuat dengan musisi Hendri Lamiri (Biola) dan Buthonk (accordeon), dalam arahan music director Anwar Fauzi.

Dari apa yang saya lihat saat latihan, tergambarkan, pentas Jakarta Melayu Festival akan menjadi panggung musik Melayu dalam artikulasi modern tanpa meninggalkan ciri tradisinya.

Musik Melayu yang memadu padan basis musik melodius dan ritmik dengan ragam teknik dan gaya ungkap tembang melalui beragam komposisi, dalam gagasan Geiz tampil sebagai artikulasi baru tentang cinta dan integralitas yang menghilangkan garis pemisah. Artikulasi cinta dalam beragam formasi, membentuk keutuhan performa budaya Nusantara dari satu sisi yang akan melengkapi kembali partitur kehidupan sosial, yang sempat koyak.

Para penari dari Konsentra – Sumatera Utara akan menghadirkan ekspresi lain yang menghadirkan harmoni rentak dan gerak, sesuatu yang egaliter dalam harmoni kecintaan pada negeri bernama Indonesia Raya, pemancang Nusantara.

"Festival ini mengangkat seni budaya Melayu, di musik dan tarian. Kami hadirkan sebagai tawaran alternatif baru, melalui performa Musik Melayu yang amat pantas mendapat apresiasi,” ungkap Geiz suatu ketika. Geiz beserta Gita Cinta Production, lewat pergelaran ini seolah ingin mengatakan, Musik Melayu masih ada. Cahaya itu masih bersinar, menebar kembali cinta yang memburai di tengah anomali zaman.

Sambil menyimak latihan malam itu, saya menggumam sepotong lirik yang didendangkan Novi, “Naluri tersentuh, dipandang ke langit nan ringan, sejambak kasih menguntum, genderang kehidupan.” | bang sem

 

Sumber : akarpadinews.com